dari novel empat musim ilana tan sampe ke negeri empat musim

Sebenernya ini novel sudah lama banget, waktu jaman saya smp, tapi terus di terbetin ulang yang akhirnya setau saya ada yang di film kan( saya sendiri tidak pernah nonton sieh film nya seperti apa). Saya disini bukan berbagi mengenai novel tersebut, hanya saja saya punya cerita tersendiri mengenai serial novel ini.

Pertama kali baca dari seorang teman yang dia pun belinya di tukang buku loak ada bekas pakunya pula ‘Summer in Seoul’ . Entah karena memang doyan baca atau karena waktu itu memang suka korea jadinya ketika denger kata seoul bawaannya jadi pengen ikutan baca ajah. Lalu saya bacalah itu buku. Kebetulan waktu itu sedang gemar gemarnya membaca, tapi bukan berarti gemar membeli buku. Begitu tahu kalau ada serial lain nya sudah keluar, inget banget waktu itu setelah lebaran dapat galak gampil langsung di beliin buku novel autumn in paris ( semoga bukunya masih ada di rumah). Saya bukan lah orang yang berduit dikit dikit beli buku, hahaha sayang uangnya,( ga ada juga sieh sebenernya uangnya). Saya lebih sering baca buku dengan sewa di perpustakaan di sebelah pasar yang hanya menghabiskan beberapa ribu rupiah sajah. ( kebanyakan dulu sewa komik sieh). Dan ketika abis beli buku itu di Gramedia, langsung di baca dan saking penasarannya di terusin sampai engga berhenti dan di marahin ibu karena baca buku terus tidak melakukan pekerjaan yang lainnya ( jangan di tiru.

Sungguh dulu penasaran banget dengan negara yang memang memiliki empat musim, secara di Indonesia tahunya cuma musim hujan sama musim kemarau, tahunya kalau engga panas ya mendung kalao eengga brarti hujan. Bener bener pengen ngerasain gimana rasanya musim gugur, melihat daun daun berguguran kemana mana nginjak daun yang pada jatoh, pohon pohon nya engga ada daunnya lalu kemudian datang salju. (….. waaa salju….)

Cuma mimpi rasanya waktu itu untuk benar benar bisa merasakan hal itu sendiri, yang ada cuma nonton dari tivi ajah sampai puas. Apalagi nonto film kartun dan bagaimana mereka menggambarkan pergantian musim ataupun aktifitas mereka di tiap musim.

Dan sekarang disinilah saya, benar benar berada di negara yang memiliki empat musim, ( walaupun engga ada saljunya). Baru menginjakan kaki disini terhitung 5 bulan ( kepotong sebulan pulang ), merasakan dinginnya udara yang sampai minus 7 derajat Celcius ( untung cuma sampe minus 7), tapi jujur yang paling menyenangkan adalah melihat daun daun berguguran dijalanan, kemanapun melangkah akan nginjak daun daun kering, lalu pada akhirnya pohon pohon mulai tak berdaun sama sekali. Lama kelamaan saat musim dingin sudah berangsung pergi dari kejauhan akan melihan pepohonan itu seolah telah rimbun tapi ketika kau dekati ternyata pohon itu masiih tak berbaun dan yang disaksikan sebelumnya itu adalah deretan burung burung kecil yang bertengger di atas rantin ranting pohon itu. Dan ketika diamati secara seksama mereka akan berangsur pergi mengadari kehadiranmu yang membuat mereka terganggu.

Saya juga suka baca nasional geografi, salah satu foto favorit saya adalah foto gelak pohon tak berdaun dimana disana bertengger burung burung. Dan sekarang saya benar benar menyaksikannya sendiri dengan mata kepala sendiri. Sayang kamera handphone saya tidak cukup bagus untuk mengabadikan atau sayanya saja yang tidak bisa memotret dengan baik.

Saya sendiri sampai sekarang seolah masih sulit percaya kalau saya ada disini, merasakan itu semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s